Wednesday, April 1, 2026

PROLOG - Part of Again, Again

 

PROLOG


Lagi-lagi aku kembali ke sudut favorit yang biasa kudatangi untuk memesan gudeg hangat yang sudah lama kurindukan. Sepiring lengkap dengan ayam kampung, telur pindang, tahu, tempe, dan sambal krecek yang tidak terlalu pedas sudah tersaji di atas meja. Namun anehnya, begitu hidangan itu hadir di depanku, bukan ke makanan itu perhatianku tertuju, melainkan sepenuhnya pada pemilik porsi yang duduk di hadapanku.

Kepalaku terasa begitu penuh semenjak ia pamit sebentar ke kamar kecil. Bahkan keramaian resto di jam makan siang tidak mampu menandingi riuhnya isi kepalaku yang sibuk menerka ini dan itu. Terlebih saat ia kembali membawa sesuatu di kedua tangannya. Ia duduk lagi di kursinya sambil meletakkan pelan bawaannya.

Your favorite. Strawberry cake.”

Senyumku mengembang memperhatikan detail kue yang diselimuti buttercream berwarna merah muda dengan stroberi yang tampak segar di sekelilingnya.

Your years, Hai?” Aku menyuarakan tulisan aneh dengan simbol hati yang tercetak rapi di permukaan kue.

Happy Birthday, Aldira.” Bibir pria yang sedang duduk berhadapan denganku itu melengkung membentuk senyuman, “Sorry… it’s been too long, and I’ve missed the important days in your life.

Suara lembut dan senyumnya yang manis otomatis membuat hatiku menghangat sekaligus berdebar. Berdebar karena dibalik senyum manis itu, aku menangkap gurat penyesalan di matanya.

Setelah sekian lama, inikah saatnya waktu itu tiba?

Setelah lama tidak bertukar kabar, akankah kata ‘balikan’ akan ku dengar?

Kedua tanganku mengepal di atas pangkuan, “Ini maksudnya apa?”

Aku sudah tidak cukup sabar untuk menebak-nebak lagi. Aku ingin mendengarnya langsung.

Still don’t get it, eh?” Ia tertawa sambil menatapku geli, membuatku meringis.

Detik berikutnya, tanpa aba-aba tangannya hinggap di kepalaku. Tangan dan jari-jarinya yang panjang menjadikan meja di antara kami bukanlah halangan baginya untuk mengacak puncak kepalaku dengan mudah, “Ternyata masih suka lemot kamu ini. Dasar!”

Aku tidak tahu saat ini selebar apa senyum yang tercetak di wajahku. Rasa-rasanya ini terlalu manis dan aku tidak sanggup menghadapinya. Padahal belum juga jelas ia menyatakan maksudnya. Semoga saja apa yang dia ucapkan nanti tidak membuatku berteriak norak dan menyita atensi pengunjung lainnya.

“Aku nggak mau lagi melewatkan hari-hari penting di hidup kamu.

Jantungku yang sejak tadi sudah berdetak tak karuan, kini semakin liar menanti kelanjutan kalimat—yang semoga—berbunyi romantis itu. Penuh harap, aku menatap kedua matanya.

Itu artinya?

Ia menarik napas, “I want us to have a—”

“—have a nice day!”

Hello, have a nice day!

Hello, have a nice day!


Krek.. Brak!

Tiba-tiba saja kursiku ambruk dan membuat tubuhku terjungkal ke lantai.

Namun saat mengangkat kepala, rasanya aneh.

Aku sudah bersiap menanggung malu, tapi justru muncul rasa lain yang lebih besar. Takut.

Kupejamkan mata.

Satu detik. Nggak.

Dua detik. Nggak mungkin.

Tiga detik. Ini rasanya… bukan di restoran.

Kuberanikan diri membuka mata lagi.

Kuedarkan pandangan sambil mengusap kepalaku yang terasa nyut-nyutan. Riuh pengunjung restoran, gudeg, kue stroberi, dan pria yang lima detik lalu tersenyum manis padaku itu—tidak ada. Semuanya hilang.

Yang ada hanya beberapa kardus, perabot kamar, dan ponsel di atas tempat tidurku yang sedang berteriak-teriak, “hello, have a nice day” berulang-ulang dengan melodi bervolume tinggi.

“Mimpi ini lagi?”

Melodi yang mengganggu mimpiku masih terdengar. Tanganku terulur meraih benda yang menghasilkan suara menyebalkan itu.

“Sebelum bangunin, seenggaknya biarin aku tau jawabannya dulu kek.” Aku mengomel pada ponselku.

“Tuh, kan! Baru jam segini!"

Bahkan ini lebih pagi dari alarm biasanya.

Tanpa ambil pusing, aku mematikan alarm dan langsung menarik selimut hingga ujung kepala. Mimpi yang tadi harus dilanjutkan.

TING!

Aku bahkan belum sempat terlelap.

TING! TING! TING!

Astaga.

Setelah berusaha mati-matian memejamkan mata, ponselku justru diberondongi denting notifikasi. Aku menyibak selimut sembari meniup kasar anak rambut yang menutupi wajahku sebelum meraih kembali ponsel yang tadi kuasingkan di bawah kaki. Aku menyalakannya dan baru sadar kalau satu jam terbuang percuma untuk mengembalikan mimpiku–yang masih gagal.

"Awas aja kalau ini nggak penting."



Larastika Jingga changed the subject from "Probation Dandelion-2018" to "Permanent employees-TI7"


Today

Larastika Jingga

Ebusett, gue rasa semalem gue ngigo soal pelantikan karyawan hari ini


Lebay banget anjir


Sori, gengs! πŸ™


Larastika Jingga changed the subject from "permanent employees-TI7" to "TI7-2018"


Larastika Jingga

*Reminder Acara Pisah Sambut Karyawan*

Guysss, 07.30 on time di kantor ya!

DCnya batik

Nggak ada ngaret2an! Telat berangkat sendiri 😊


Gilang A. Baskara

Waduu, baju gue belum gue batikin

Masih polos


Satrio Atmawijaya

Diajarin nakal dikit dong, biar nggak polos2 amat


Abiyan Pranatha

Ok


Gilang A. Baskara

Ajarin dong mas


Satrio Atmawijaya

sm yg udah pro aja

Coba tanya @Abiyan Pranatha

Udah bilang Ok tuh


Abiyan Pranatha

Cb nanti gue tanya sm ahlinya dl

Tetangga gue di solo ada yg punya kerajinan batik

Tp orangnya gk nakal


Larastika Jingga

Alhamdulillah ada yg menyelamatkan hamba dari pikiran yg iya-iya


Gilang A. Baskara

Astagfirullah Laras, masih pagi


Satrio Atmawijaya

Astagfirullah Laras, masih pagi(2)


Larastika Jingga


Gilang A. Baskara changed the subject from "TI7-2018" to "BETUTU-2018"


Satrio Atmawijaya

Apaan tiba-tiba betutu?

Jadi pengen ke Bali


Gilang A. Baskara

Bestie-bestie TI Tujuh ☺️


Larastika Jingga

Lebih alay njirr


Abiyan Pranatha

Itu BETITU


Larastika Jingga

Jadi inget betutu @Aldira Ayunindya yang jatoh kemarin 😭

Btw, kemana dia?


Gilang A. Baskara

Jangan2 tepar abis pindahan kos? 😱


Tepar?

Aku terkekeh setelah iseng membuktikan ketikan Gilang dengan melihat bajuku yang masih sama seperti kemarin. Tebakannya benar.

Sumpah, aku tidak akan pernah lupa kalau kemarin itu salah satu hari paling melelahkan dalam hidupku—secara fisik. Aku sengaja mengambil cuti untuk pindahan kos, namun terpaksa merelakannya hangus karena mendadak harus ke kantor untuk menyelesaikan beberapa deadline yang maju sehari akibat acara yang wajib kuhadiri hari besoknya… besok?

Oh shit!”

Aku langsung melompat dari kasur—

“AW!”

Tidak hanya lupa kalau ‘besok'nya kemarin adalah hari ini, aku pun tidak ingat kalau proses menata barang semalam belum selesai dan beberapa sisanya masih berserakan di lantai. Kakiku terantuk kardus besar bertuliskan “Punya Aldira”.

Rasanya ingin menangis, tapi mengingat ngilu yang mendera ujung kuku jempolku jelas nggak akan membunuhku, aku mengabaikannya. Mencari alat mandi jauh lebih penting–aku bisa benar-benar “mati” kalau sampai terlambat ke Kelapa Gading untuk menghadiri acara pagi ini.

Aku membuka kardus satu per satu. Tapi belum berhasil menemukan benda yang kucari, suara gemerisik dari luar kamar membuatku menoleh. Tirai kusibak sedikit untuk mengintip. Di luar sana hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.

Kurasa aku benar-benar hampir tertawa sambil menangis tepat ketika ponselku kembali berdering. Kali ini lebih lama, menandakan panggilan. Aku menyambarnya dan buru-buru menjawab begitu membaca caller id yang terpampang.

“Jangan lupa pakai batik seragam—LO BARU BANGUN YA?!”

Tanganku otomatis menjauhkan ponsel dari telinga beberapa detik bersamaan dengan repetan yang kudengar, atau lebih tepatnya ganjaran instan yang kudapat karena tanpa sengaja menguap saat ia mulai bersuara. 

Begitu suara di seberang sana sudah kondusif, aku segera menyahut, “Tungguin, plisss! Aku nggak ada kendaraan. Kamu masih ingat kan, mobilku masih di bengkel?”

Aku yakin, tanpa melihatku dia tahu saat ini aku sedang meringis sambil menampilkan wajah memelas. Sememelas semalam saat mobilku menabrak pohon rambutan di belakang kantor gara-gara panik, pemilik kos lama terus menerorku untuk segera mengosongkan kamar.

“Masa kalian tega biarin aku dari Pluit ke Kelapa Gading naik ojek motor ujan-ujan, ya kan? Tau sendiri kan, ujan gini pasti macet dan kalau order mobil nggak ada yang mau pick up—”

Kata gue tutup mulut lo dan buruan mandi. Sekarang! Gue otw ke tempat lo.”

Aku memekik senang, “Sekarang aku percaya kalau kamu emang dikirim Tuhan buat jadi penyelamat hidupku! Thank–

No, no, no. Gue nggak nerima terima kasih dalam bentuk ucapan.”

Aku berdecak. Sudah pasti dia minta disuap, “Materialistic, as always!”

Di depan gue ada rambu putar balik–”

“Dua cup Green Tea Latte?” Potongku cepat, menyebutkan minuman favoritnya di Cozy Caffe.

Tiga.tawarnya namun dengan nada final.

“Yaudah, iya!” Kataku pasrah, “Astaga, sebenernya aku bingung kamu itu niatnya mau nolongin atau morotin.”

Ia tertawa puas, “Oke, gue pura-pura nggak liat rambunya kalau gitu.”

Aku mengakhiri panggilan begitu melihat alat mandi yang sedari tadi kucari tiba-tiba saja menampakkan diri di atas meja rias. Aku meraihnya dan langsung tunggang langgang menuju kamar mandi.

Sarapan umpatan dari teman-teman kantor sepertinya bukan opsi menarik untuk ditambahkan ke dalam daftar kekacauan hari ini.

Pagiku saja sudah cukup chaos, bukan? Kemacetan, hujan, kamar yang berantakan, dan mimpi yang belum terselesaikan.

***



Hai, long time no see!
Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali—kali ini dengan lebih berani membagikan cerita yang sudah kutulis selama lima tahun belakangan.
Kalau kamu tertarik untuk membaca, aku taruh alamatnya di sini ya. See you there! :)

https://www.wattpad.com/story/409391373-again-again

No comments:

Post a Comment